09 Jun 2008 11:28:59

METODOLOGI GERAKAN MAHASISWA NIRKEKERASAN.

Dewasa ini paska tahun 1998, gerakan mahasiswa yang ada di Indonesia mengaruskan identifikasi dengan aksi demonstrasi. Ketika memiliki perbedaan maka mahasiswa memilih bergerak dalam kesatuan pemikirannya dengan berteriak – teriak di jalanan. Dalam tataran penapilan adalah sama dengan orang gila yang berbicara sembarangan, namun berbeda dalam bobot penyampaian ide.

 

Demonstrasi merupakan aksi mempertunjukkan apa adanya. Dalam hal pertentangan, ia adalah beberapa metode sebelum saling membunuh (keos; aparat menembak demonstran, dan demonstran menyandera lalu menyiksa aparat). Ia digunakan ketika dalam upaya rasionalisasi alasan perbedaan menemui jalan buntu kemudian tidak terbendung lalu meluber pada mendemonstrasikan kekuatan fisik, suara, massa, media, dan lainnya. Namun seringkali akhir dari demonstrasi tidak menghasilkan win – win solution, melalui arti kedua pihak yang berbeda sama – sama tidak terakomodasi kepentingannya. Demonstrasi lebih banyak merugikan pihak – pihak yang bertikai baik materil maupun moril jika pengelolaannya tidak melalui tahapan – tahapan sampai akhirnya harus berdemonstrasi. Maka diupayakanlah semampunya menempuh cara – cara yang dirasa dapat memberikan hasil yang optimal, sesuai kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan yang ada. Sesungguhnya demonstrasi merupakan satu dari sekian ratus cara yang dapat dilakukan untuk berjuang. Kreatifnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang Gene Sharp dalam bukunya The Politics of Nonviolent Action bahwa terdapat sekitar 198 metode aksi yang dirasa mumpuni maka olehnya dinamakan sebagai aksi nirkekerasan, yang dihimpun dari sejarah gerakan politik dengan sumber pada berbagai belahan dunia. Dari sekian banyak yang disebutkan ia membaginya menjadi 3 bagian, di mana masing – masing digunakan secara berurutan, jika yang pertama tidak menghasilkan sesuai dengan keinginan maka digunakanlah prosedur selanjutnya demi tercapainya tujuan.

 

1.      Protes, demonstrasi, dan persuasi.

Metode pertama adalah penyampaian tuntutan dengan jalan komunikasi publik, agar penguasa menanggapinya. Komunikasi tidak terbatas verbal, tetapi juga simbolik dan interaktif. Terdapat sekitar 54 metode termasuk di sini, di antaranya pernyataan publik, deklarasi, petisi, slogan, karikatur, poster, leflet, lobi, simbol pakaian, warna bendera, gambar seseorang sebagai protes, doa protes, drama, musik, parade, upacara kematian korban represi, pengiriman deputi perwakilan, duduk di jalan, walk-out, dan sebagainya.

 

2.      Nonkooperasi ekonomi, sosial, dan politik.

Metode nonkooperasi adalah aksi nirkekerasan dengan cara tidak mau kerjasama dengan rezim atau memutus hubungan dengan rezim sehingga kepentingan rezim terganggu. Sekitar 103 macam metode termasuk di sini. Di antaranya, boikot, penundaan dukungan, mogok, keluar dari lembaga tertentu, tinggal di rumah saja, pergi hijrah, boikot ekonomi, embargo, sanksi ekonomi, menolak mendukung, menolak membantu, memblok komando dan informasi, menolak rapat, menolak dialog, dan sebagainya.

 

3.      Intervensi tanpa kekerasan.

Metode intervensi diambil ketika kedua metode di atas tidak berjalan. Ia sebagai cara terakhir karena di dalamnya memiliki risiko tinggi. Metode ini adalah menekan secara psikologis dan fisik tanpa kekerasan kepada pihak lawan atau penguasa. Terdapat sekitar 41 macam aksi masuk di sini. Di antaranya ialah puasa, mempuasai hari-hari jatuhnya korban, mogok makan, menduduki tempat strategis, membuat alternatif organisasi massa, blokade tempat simbol penindasan, membuka kedok agen rahasia, membebaskan tahanan politik, memutus hubungan penguasa dengan pendukungnya, memojokkan posisi penguasa dari pergaulan, dan sebagainya.





Tulis komentar Anda
Nama

E-mail

Komentar