AZAN TIDAK BERLAKU DI KAMPUS INI
Tahun 2002 di SMANSA Baus, awal semester ganjil tahun ajaran 2002/2003, dari sudut kiri paling belakang III IPS 1, sekolah tampak biasa dengan aktivitas keseharian proses belajar mengajar. Datang tepat waktu untuk mengulangi pelajaran yang telah lalu atau tercenung dengan informasi yang terbaru, terlambat lalu diganjar membersihkan sekedar, atau sebelumnya melalui penanganan yang salah jalan yakni lompat pagar, lompat kamar mandi, atau lompat jendela, berlari dalam keriangan kurikulum pada mata pelajaran PENJASKES, guru – guru hanyut dalam mensosialisasikan tata nilai luhur serta kaidah berpikir ilmiah dalam pencarian kebenaran yang terakumulasi melalui ilmu pengetahuan. Para siswa dan siswi terlibat dalam siklus romantika masa remaja, berkarya, berpetualang. Namun jalan raya tetap ribut, riuh tak menghiraukan ada orang yang belajar, menginginkan ketenangan tanpa gangguan maksimal. Dan kepala sekolah, ....??. Itulah gambaran yang ada pada pagi harinya.
Beranjak siang hari, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, mengejar tuntutan pengajaran yang telah direncanakan....Terdengar lantunan Adzan di luar sana, mengalun, mengeras, memanggil semua insan yang terklaim dalam absensi mata pelajaran PENDAIS untuk shalat. Tapi kenyataannya tidak, tidak ada realitas bel solidaritas penghormatan eksistensi pluralitas. Yang ada hanya mengantuk, berharap waktu lekas berlalu agar pulang semakin dekat. Bingung, ada apa ini, mengapa kami tidak diberikan kesempatan dalam keharusan, ini adalah pelanggaran kewajiban asasi manusia.
Kenyataan yang ditunjukkan dalam ilustrasi bahwa jika islam itu hijau, maka SMANSA Baus akan hijau karena hampir semuanya mengaku sebagai Islam. Namun tidak, sekolah tetap bersekolah dalam keheningan studi sampai waktu yang tersedia selesai. Bel pulang.
***
Doaku*
Iqamah
Tuhan
Panggilan-Mu menggema
Membuat aku merenung
Membuat ceramah mereka hambar
Aku teringat janji itu
Tuhan
Imanku rapuh
Tidak kuasa berbuat untuk-Mu
Tuhanku
Tetapkanlah hatiku, kuatkanlah imanku
Bukakan hati mereka, agar
Mereka rasakan segar dan sejuknya siang-Mu
Yaa Allah
Kuhanya bisa berdoa
Karya Rauda
Bila dikomparasikan dengan teman – teman Muslim yang bersekolah di MAN, Pesantren SAW, atau Pesantren Hidayatullah, mereka menjalankan ibadah serta diberikan keleluasaan untuk itu. Ketika pelajaran tengah berlangsung serta merta dihentikan bila waktu untuk menghadap tuhan telah tiba. Namun mengapa di SMANSA Baus tidak seperti mereka ?. Mengapa tidak diberlakukan waktu untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur kepada siswa siswi SMANSA Baus sama seperti mereka yang bersekolah di tiga sekolah tadi, padahal sama beragama Islam ?. Apakah SMA merupakan sekolah yang didesain untuk membentuk didikannya menjadi sekuler ?. Penerapan sekuler setengah hati !
Kenyataan yang sama terjadi di kampus ini. Kampus bumi palagimata. Ketika semester I, beriak. Meminta agar waktu mempersembahkan sukma dan raga dapat dihomati oleh semua bentuk aktifitas yang ada, sebagai manifestasi pemahaman intelektual, insan adiluhung. Namun hanya didengar dan tidak disahuti.
Di kampus ini memang terdengar lantunan Adzan yang biasa diperdengarkan langsung dari Mushala Fastabiqul Khairat. Tetapi tidak berlaku untuk semua. Civitas akademika tidak menjadi terpengaruh olehnya. Ini karena belum paripurnanya pemahaman lembaga pendidikan yang berbasis akhlak dan budaya sesuai dengan warisan nilai luhur.
Adzan tidak berlaku di kampus ini, karena adzan hanya akan mengganggu konsentrasi dosen yang mengajar, serta mahasiswa yang belajar. Namun tidak mengganggu manakala penghuninya tidak ada. Tapi mengapa Adzan tidak ada pada saat liburan ? Sesungguhnya Adzan untuk siapa ?
Tulis komentar Anda

Tugas kitalah semua umat islam untuk saling mengingatkan akan ajaran islam ini, semoga saat