09 Jun 2008 11:39:05

HARAPANKU ANTARA PEMUDA DAN PEMIMPIN SULAWESI TENGGARA

Pemuda - Pemudi Sulawesi Tenggara adalah generasi yang rindu kedamaian, berusaha mewujudkannya dalam segala upayanya. Keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya tersalurkan melalui gaya hidup dan menjadi mode masa kini melalui aksi dan reaksi. Mengemudikan kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi, mengkonsumsi minuman beralkohol, menganut ide hedonisme, konsumerisme wal bulimia, pemalasan sosial, berperilaku cenderung menyimpang dari norma, kehidupan underground, keterlibatan pada jaringan narkoba, sebagai bagian dari aktivitas jual beli diri, menjadi alat atau kendaraan politik tingkat lokal, regional. Sesuatu yang hanya dimanfaatkan namanya, tenaganya.

 

Teriring harapan, agar titipan bangsa ini tidak sampai terbenam dalam alam bawah sadarnya doktrin politik kotor, terdidik sebagai orang yang munafik atas iklim perpolitikan kini, yang mengharuskan kepemilikan idealisme yang tidak tergadai. 

 

Ada pula yang berjuang berbalik arah dengan kebanyakan. Mengadakan training revolusi kesadaran atau kajian rasional obyektif logika, ikut serta dan mengeluarkan ide-ide baru nan segar, tentang solusi permasalahan sosial ekonomi yang menimpa. Dengan keinginan agar terbuka wawasan & cakrawala berpikir para penerus, tunas bangsa.

 

Pembangunan yang sedang gencar – gencarnya dijalankan, memerlukan para taruna & taruni yang enerjik, memiliki kapasitas serta kapabilitas yang semampunya dapat menjawab tantangan global, menyelesaikan persoalan yang melanda.

 

Bahwa dalam geliatnya perubahan esok, semestinyalah selalu melakukan upaya-upaya yang dapat mendukung ke arah perbaikan. Rasa pesimis yang timbul ketika membandingkan antara konsep dan realita idealnya, kemudian menampakkan keranjingan yang berubah menjadi masalah. Kesadaran minusnya keadaan demikian mendorong kepada semua untuk semestinya bertanya apa yang bisa dipersembahkan guna perbaikan generasi penerus ini.

 

Melalui pengamatan sepintas, rupanya keluarga sebagai benteng dalam upaya peletakan dasar diri insani telah melenceng dari konteks fitrahnya, membentuk hamba yang senantiasa taat atas kepercayaan kultus ketuhanan. Keluarga telah terinfiltrasi oleh sesuatu yang berasal dari luar namun tidak semestinya berada. Banyak sekali keprihatinan yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan. Apakah termasuk di antara mereka, atau berada pada yang mau mengubah. Akankah kita mau merubahnya, mampu, mulai dari diri sendiri, dari hal yang sangat kecil (tekad), dan mulai dari sekarang.

 

Jika mencari jalan keluar atasnya, akan ditemukan banyak pilihan untuk mengarah kepada kehidupan yang lebih baik. Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, semisal perubahan maka segala yang terdapat di dalamnya memegang peranan yang saling berkaitan satu sama lain dan saling ketergantungan antara tugas, wewenang, serta tanggung jawab baik sebagai individu maupun sebagai pengemban amanah.

 

Terdapat berbagai cara pengembangan diri ke arah positif seperti berproses pada organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, kemasyarakatan, yang dipahami sebagai wadah dalam kesatuan arah dan gerak kejuangan semasa alam kemerdekaan untuk berkarya, mempersiapkan diri untuk nantinya dapat lebih mapan dan mandiri dalam ranah kehidupan bermasyarakat. Yang diharapkan dapat menciptakan iklim kehidupan bermasyarakat yang dinamis dengan optimalisasi segala lini yang ada, mensinergikan Potensi Kepemudaan, membangun bersama.

 

Dalam konteks demikian pemimpin diuji. Sebagai sebuah hasil proses tertentu yang terjadi dalam lingkupnya, lalu kemudian dipercayakan untuk menunjukkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah, salah satunya hal klasik tentang pemuda. Memiliki gambaran yang kabur, pun jauh dari kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat. Perlunya sentuhan kepemimpinan sebagai upaya membangun jiwa pemuda idealnya, pembentukkan karakter berbasis kebangkitan kesadaran. Maka dialektika kepemimpinan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pemikiran universal tentang konsep kepemimpinan para pemimpin yang ada, dalam upayanya pembangunan, sumber daya manusia, pemuda.

 

Sebagaimana pemahaman selama ini bahwa pemimpin dalam tanggung jawabnya adalah vital dan sangat menentukan nasib semua yang dipimpinnya. Dapat menghantarkannya kepada tujuan sampai mereka mau dipimpin, atau kemudian gagal dan membawa bencana bagi semua. Diperlukan kemampuan, pengetahuan, keahlian dan segenap kelebihan lainnya yang visioner, adil, jujur, kuat, dan amanah dalam menjalankan tugas yang diembankan.

 

Bahwa dengan pertimbangan seorang pemimpin tidak lahir begitu saja, namun melalui sejumlah tahapan atau proses yang unik sedemikian, belajar, berlatih, dan menekuni yang ada, lalu kemudian berusaha mengembangkan dengan tujuan untuk menemukan hal yang baru, di mana semuanya itu dilakukan semenjak masa muda, maka dirasa terdapat hubungan yang kuat antara pemimpin yang ideal dan masa pembelajarannya, serta sinkronisasi antara konsep yang dijalankan dalam kesejahteraan rakyat dengan pemahaman pemberdayaan yang diketahui selama ini.

 

Jika menjadikan pemimpin sebagai patron ke arah tujuan pembangunan bersama, maka diperlukan gambaran yang jelas serta komprehensif mengenai siapa, apa, dan bagaimana, serta berbagai pertanyaan lainnya. Sejatinya dapat menjadi inspirasi dalam imej dan gerak, posisi yang subyektif. Sadar akan besarnya peran, pengaruh pemimpin dalam membawa perubahan secara keseluruhan, maka seharusnyalah dibentuk perspektif berpikir kepemimpinan kontemporer dalam konteks disparitas regional sulawesi tenggara, upaya menanamkan pemahaman tentang pemimpin yang dapat membawa perubahan ke arah yang positif. Agar nantinya generasi muda penerus pembangunan dapat memahami konsep pemikiran seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, menuju masyarakat madani.




Tulis komentar Anda
Nama

E-mail

Komentar