research
  • 18 Jun
  • 2026

LERIN UNIDAYAN GELAR PEMUTARAN FILM DOKUMENTER KOCIKA DAN DISKUSI BUDAYA CIA-CIA, RATUSAN MAHASISWA ANTUSIAS

  • Oleh Unidayan Operator

Baubau, 18 Juni 2026 – Lembaga Riset dan Inovasi Universitas Dayanu Ikhsanuddin (LeRIN Unidayan) menggelar kegiatan Pemutaran Film dan Diskusi Budaya bertajuk KOCIKA: Astrologi Tradisional Masyarakat Cia-Cia di Baruga La Ode Malim Unidayan, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari ratusan mahasiswa yang hadir untuk menyaksikan film dokumenter sekaligus mengikuti diskusi mengenai pengetahuan tradisional masyarakat Cia-Cia sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Buton.

Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik dan kultural bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Tidak hanya menampilkan pemutaran film dokumenter, acara ini juga dirangkaikan dengan diskusi budaya yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, budayawan, dan sutradara.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Dr. La Ode Abdul Munafi, M.Si. selaku akademisi, La Ode Alirman, S.H. selaku budayawan Buton, Haeruddin, S.Pd., M.A. dan Arif Relano Oba selaku sutradara, dengan Dr. Ld. Syaiful Islamy H., M.Si. Kepala Lembaga Riset dan Inovasi Unidayan yang juga bertindak sebagai moderator.


Sutradara film KOCIKA, Haeruddin yang juga merupakan Dekan FKIP Unidayan, menjelaskan bahwa proses penggarapan film dokumenter tersebut telah dimulai sejak tahun 2025. Namun, realisasi produksi hingga penayangan baru dapat terlaksana pada tahun 2026 setelah memperoleh dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesiana.

Menurutnya, Kota Baubau dipilih sebagai lokasi pemutaran karena memiliki keterkaitan erat dengan latar produksi film. Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Sorawolio, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan masyarakat suku Cia-Cia.

Haeruddin mengungkapkan bahwa tema Kocika memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman pribadinya. Kenangan masa kecil saat tinggal di lingkungan keluarga yang mengenal praktik Kocika menjadi salah satu inspirasi dalam proses kreatif film tersebut. Bagi dirinya, Kocika bukan sekadar tradisi lama, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang pernah menjadi pedoman masyarakat dalam menentukan waktu, membaca pertanda, dan mengambil keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Haeruddin menjelaskan bahwa Kocika di wilayah Sorawolio memiliki karakteristik tersendiri. Tradisi ini digunakan untuk membaca peredaran bulan dan hari guna menentukan waktu yang dianggap baik untuk melakukan aktivitas tertentu. Dalam keyakinan masyarakat, terdapat hari-hari yang dipandang membawa pertanda baik maupun kurang baik. Di sisi lain, praktik Kocika juga berkaitan dengan ritual tertentu yang dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi persoalan hidup.

Melalui film dokumenter ini, Haeruddin berharap generasi muda dapat lebih mengenal dan menghargai pengetahuan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Ia menilai warisan budaya lokal perlu dipahami secara bijak, bukan untuk dipertentangkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sebagai bagian dari khazanah pengetahuan yang patut dipelajari dan dilestarikan.

Sementara itu, La Ode Alirman menegaskan bahwa Kocika merupakan salah satu warisan pengetahuan masyarakat Buton yang telah dikenal sejak masa lampau. Dalam tradisi masyarakat Cia-Cia, simbol-simbol dalam Kocika diyakini memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan pembacaan waktu, peristiwa, dan pertimbangan hidup.

Menurutnya, penting bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerahnya sendiri agar tidak kehilangan keterhubungan dengan akar identitas lokal. Pemahaman terhadap tradisi seperti Kocika dinilai dapat menumbuhkan kesadaran budaya sekaligus memperkuat penghargaan terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur.

Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, khususnya pada sesi diskusi budaya. Sejumlah mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai makna Kocika, relevansinya di tengah perkembangan zaman, serta tantangan dalam menjaga keberlanjutan kearifan lokal di era modern.

Melalui kegiatan ini, Unidayan kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki komitmen dalam pelestarian budaya lokal. Pemutaran film dokumenter KOCIKA dan diskusi budaya ini diharapkan menjadi medium edukatif bagi mahasiswa untuk lebih mengenal, memahami, dan merawat warisan budaya daerah sebagai bagian penting dari identitas bangsa.


Baca Juga Berita:

  1. LPM UNIDAYAN GELAR FGD PENYUSUNAN REGULASI PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BUTON
  2. PENYERAHAN SK IZIN PEMBUKAAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER OLEH KEMENRISTEKDIKTI
  3. UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN MATANGKAN PERSIAPAN WISUDA SARJANA KE-53 DAN PASCASARJANA KE-32 MELALUI RAPAT KOORDINASI PANITIA